Dimas selalu merasa bahwa hidupnya teratur, hampir seperti mesin. Setiap detik dijalani dengan penuh tujuan, dari meeting ke meeting, dari laporan ke laporan. Semua itu adalah rutinitas yang sudah terbiasa dia jalani, hingga suatu pagi, ada satu momen yang sedikit mengusik ketenangannya.

Setiap pagi, saat Dimas melewati area parkir gedung kantornya, ada Cella, kasir parkir yang selalu memberikan senyum sederhana saat ia menyerahkan kartu parkir. Tidak ada kata-kata lebih, hanya ucapan terima kasih yang membuat Dimas merasa sedikit lebih ringan di tengah hari-harinya yang sibuk. Senyum itu—meski hanya sekilas—selalu memberi ketenangan, sesuatu yang jarang ia temui di dunia kerja yang penuh tekanan.

Selama beberapa minggu terakhir, Dimas mulai memperhatikan Cella lebih sering. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Kadang, setelah menyerahkan kartu parkir, ia ingin berbicara lebih lama, bertanya tentang hari Cella, atau mungkin sekadar memberi pujian atas senyumnya. Tapi, Dimas selalu menahan diri. Apa yang harus dia katakan? Bagaimana kalau obrolannya canggung? Bagaimana jika ia malah terlihat aneh?

Pagi itu, setelah berulang kali melamun tentang hal yang sama, Dimas akhirnya memutuskan bahwa hari ini ia akan menyapa Cella. Tidak ada lagi alasan untuk menunggu. Ia sudah memantapkan hati. Dia akan mengucapkan sesuatu lebih dari sekadar “Terima kasih, Pak.”

Dimas Pun berdiri tegak, sedikit melepaskan napasnya, “Aku cuma mau bilang kalau kamu punya senyum yang bagus,” kata Dimas dengan lugas.

Dimas mengerutkan dahi, lalu mencoba lagi, bak menunggu Cella memberi respons. “Cella, kamu sering di sini, ya? Kok, kamu selalu kelihatan tenang…” Ucapan itu terdengar semakin canggung, jadi Dimas menggelengkan kepala dan mencoba kalimat lain.

Dia mulai mengucapkan lebih serius, “Hai, Cella. Senyummu tuh bikin hari-hariku lebih baik.”

Kemudian, dia berhenti sejenak, melihat cermin dan tertawa kecil. “Kok jadi kayak gitu ya? Cheesy banget, Dim!”

“Nah, Itu simpel, kan? Cukup simpel… Gitu dong, Dim!”

Dimas menatap dirinya lagi di pantulan kaca. Ia terus mencoba mencari cara terbaik untuk mengatakannya. “Aduh, ini harus natural. Tapi, kenapa kayak gini jadi susah banget?” Dia menyandarkan tangan di pinggang, seakan memberi perintah pada dirinya sendiri. “Oke, nggak apa-apa. Santai bruh!”

Dengan keyakinan yang mulai tumbuh, Dimas berangkat ke kantor. Dengan modal pomade dan parfum yang ia semprotkan lebih dari biasanya. “Kok, rasanya lebih deg-degan daripada presentasi business plan ke bos-bos ya?

Dimas enggak sadar, kalau menyapa orang dan sekadar bersosialisasi agak samar di ingatannya. Kegiatan yang bagi banyak orang manusiawi, tapi jadi suatu hal yang sudah lama ia abaikan dalam hidupnya yang berlari begitu cepat.

Dimas tiba di area parkir, ia mendapati sesuatu yang tidak ia duga. Pintu otomatis yang biasanya hanya menjadi latar belakang kini berdiri tegak dengan mesin pemindai kartu yang besar. Loket kasir yang dulu selalu ditempati oleh Cella sudah kosong, tak ada lagi suara ringan, “Terima kasih, Pak,” yang biasa ia dengar. Dimas terhenti.

“Ini…?” Dimas berkata pelan, matanya berpindah dari mesin ke sekitar, mencari sosok Cella. Tidak ada.

Ia berjalan mendekat ke mesin otomatis, melihat layar yang menunjukkan instruksi sederhana: “Masukkan kartu, ambil tiket.” Semua menjadi lebih cepat, lebih efisien. Tanpa berbicara, tanpa senyum. Tanpa Cella.

Dimas merasa sedikit kecewa. Ia berdiri di depan mesin itu, merasa sedikit konyol karena sudah berlatih di depan kaca semalam, membayangkan bagaimana percakapan mereka akan berjalan. Semua perencanaan itu tiba-tiba terasa sia-sia. Sambil menghela napas, Dimas mendekati petugas parkir yang baru menggantikan posisi Cella.

“Cella, yang kasir itu, ke mana?” tanyanya, sedikit ragu.

Petugas baru itu mengangkat bahu. “Oh, dia sudah nggak kerja di sini, Pak. Kantor baru pasang sistem parkir otomatis, jadi nggak perlu lagi kasir.”

Dimas mengangguk pelan, dan sesuatu terasa menyesak di dadanya. Keputusan kantor untuk memasang sistem otomatis memang praktis. Lebih cepat, lebih efisien, lebih modern—tapi kenapa ada perasaan kosong yang tak bisa ia jelaskan? Tidak ada lagi senyum itu. Tidak ada lagi sapaan ringan. Tidak ada lagi momen kecil yang selama ini menambah hangat hari-harinya yang sibuk.

Dengan langkah pelan, Dimas menuju mobilnya, menyadari bahwa hidupnya, yang selalu dijalani dengan kecepatan tinggi dan efisiensi, kadang kehilangan hal-hal kecil yang justru bisa memberi warna. Ia tersenyum sedikit, meski agak pahit. Hari ini, ia benar-benar belajar: kadang, hal-hal yang tampaknya tidak penting—seperti senyum sederhana dari seseorang yang kita lewati setiap hari—justru bisa menjadi bagian kecil yang berarti.

Dimas menatap layar ponselnya, mencoba mengabaikan perasaan canggung yang muncul begitu saja. Hari ini, ia sadar bahwa tidak semua hal bisa direncanakan. Ada momen yang datang begitu saja, dan ada momen yang kita biarkan hilang tanpa sempat kita sadari.

Leave a comment

Trending