Alya berdiri di dapur rumah yang kini terasa lebih sepi. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, dan cahaya pagi yang lembut menembus jendela, memantulkan kilau pada rak-rak buku dan peralatan yang ada di sekitarnya. Di meja dekat jendela, ada beberapa catatan dan buku resep yang ia susun dengan hati-hati semalam.
Sejak kepergian Ardi, ada kekosongan yang ia rasakan, lebih dari sekadar kehilangan pasangan hidupnya. Alya merasa kehilangan arah, seakan bagian dari dirinya yang paling penting telah hilang bersamanya. Namun, pelan-pelan, perasaan itu mulai berubah. Dalam beberapa minggu terakhir, ia mulai teringat kembali akan impian yang dulu sempat ia lupakan, saat Ardi masih ada di sisinya.
Mereka pernah berbicara tentang membuka sebuah bisnis kecil bersama—mungkin sebuah kafe kecil atau bakery shop yang mengusung konsep rumah hangat dengan roti dan kue-kue homemade. Ardi, yang selalu mendukungnya, bahkan sering membantu mencari inspirasi dan memberikan ide tentang berbagai hal.
“Saat kamu memulai, kamu akan merasa seolah-olah seluruh dunia berada di tanganmu,” kata Ardi pada suatu malam, saat mereka duduk di beranda rumah mereka, menikmati teh hangat. “Kamu punya banyak potensi, Alya. Jangan ragu untuk mengejar apa yang kamu inginkan.”
Saat itu, Alya hanya tersenyum mendengarnya, merasa hidup mereka sudah cukup lengkap. Namun kini, kata-kata itu terus bergema dalam pikirannya. Ardi sudah tiada, tetapi impian yang mereka bangun bersama tidak bisa terhenti hanya karena kenyataan pahit. Alya tahu ia harus bergerak maju, meskipun terasa sangat sulit. Ia ingin membangun sesuatu yang tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk mengenang Ardi. Bakery shop kecil itu akan menjadi cara untuk melanjutkan apa yang dulu mereka rencanakan bersama.
Pagi yang Sibuk
Pagi ini, Alya mulai mengeluarkan bahan-bahan yang ia perlukan untuk percakapan pertamanya dengan seorang kontraktor yang akan membantunya menyiapkan ruang untuk toko kecilnya. Ia memandang resep-resep kue yang sudah ia salin dengan teliti, terinspirasi oleh kenangan masa kecilnya—ibu yang selalu memanggang kue dan roti di rumah yang hangat. Ada semangat yang mengalir dalam dirinya, meskipun rasanya tak mudah.
Tangan Alya bergerak cekatan menyiapkan adonan roti pertama yang akan ia coba buat, sementara matanya sesekali melirik ke foto Ardi yang ada di meja. Foto itu diambil saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Ardi tersenyum lebar di sampingnya, dengan mata penuh cinta. Hatinya terasa hancur setiap kali melihat foto itu, tapi ia tahu bahwa Ardi selalu menginginkan yang terbaik untuknya.
“Ardi… aku akan lakukan ini, untuk kita,” bisiknya pelan pada foto itu. “Aku akan membuatmu bangga.”
Meskipun kesedihan masih terus mengalir di dalam dirinya, Alya tahu bahwa untuk melangkah maju, ia harus berani membuka lembaran baru. Ini bukan hanya tentang menjalani hidup tanpa Ardi, tetapi tentang merayakan apa yang mereka miliki bersama, dan bagaimana ia bisa meneruskan impian mereka.
Pertemuan dengan Kontraktor
Beberapa jam kemudian, Alya berada di sebuah kafe kecil di pusat kota, bertemu dengan seorang kontraktor yang direkomendasikan oleh temannya. Mereka berdiskusi tentang ruang yang akan digunakan untuk toko kecilnya. Alya menceritakan konsep yang ingin ia terapkan—sebuah tempat yang hangat, nyaman, dan penuh kenangan. Sebuah bakery shop dengan desain yang mengusung suasana rumah, lengkap dengan rak kayu, jendela besar, dan aroma roti segar yang bisa menciptakan kenangan indah bagi setiap orang yang datang.
“Ini bukan hanya tentang bisnis, Pak. Saya ingin tempat ini menjadi rumah bagi siapa saja yang datang. Saya ingin orang-orang merasa seperti sedang mengunjungi keluarga,” kata Alya dengan penuh semangat. “Ini impian kami berdua… Saya ingin melanjutkan apa yang dulu kami rencanakan.”
Kontraktor itu tersenyum, memahami keinginan Alya. “Saya bisa merasakan passion Anda. Mari kita buat ini menjadi kenyataan.”
Langkah Baru yang Penuh Harapan
Beberapa minggu setelah toko bakery kecilnya mulai beroperasi, Alya mulai merasa ada energi baru dalam hidupnya. Setiap hari ia bangun pagi, mempersiapkan adonan roti, menata etalase, dan menyambut para pelanggan dengan senyuman hangat. Meskipun masih ada kesedihan yang mengendap dalam hatinya, toko kecil ini memberi Alya kesempatan untuk kembali menemukan dirinya, untuk merasakan kebahagiaan yang sederhana. Roti dan kue-kue yang ia buat kini tidak hanya menjadi karya, tetapi juga bagian dari proses penyembuhan.
Pada suatu sore yang cerah, saat toko sedang agak sepi, seorang lelaki masuk dan langsung menuju meja dekat jendela. Tangan lelaki itu menggigil sedikit, seolah baru saja keluar dari cuaca yang dingin. Alya melihat ke arah lelaki itu dengan cepat. Penampilannya biasa saja—jaket kulit hitam, celana panjang hitam, dan sepatu yang sudah sedikit lusuh. Namun ada sesuatu yang membuat Alya menatapnya lebih lama.
“Selamat sore,” lelaki itu mengangkat kepala dan tersenyum ramah, meski sedikit canggung. “Bisa saya pesan susu hangat dan beberapa kue? Saya baru saja tiba di kota ini dan ingin merasa lebih… hangat.”
Alya mengangguk, mengamati pria itu. Ada sesuatu yang terasa familiar dari senyumnya, meskipun ia tidak bisa mengingat dengan pasti siapa orang itu. Ia mulai menyiapkan pesanan lelaki tersebut, dengan gerakan cepat namun lembut. Namun, ada sesuatu dalam cara lelaki itu duduk, cara ia menatap luar jendela, yang membuat Alya merasa jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Ketika Alya membawa pesanan ke meja lelaki itu, ia memperhatikannya dengan seksama. Begitu mata mereka bertemu, tiba-tiba semua kenangan datang begitu saja. Alya terkejut, hampir menjatuhkan nampan yang ia pegang.
“Andre?” suara Alya keluar dengan nada ragu, hampir seperti sebuah pertanyaan.
Lelaki itu menatapnya sejenak, ragu, lalu senyumnya menyebar perlahan. “Alya…” Ia mengulang nama itu, suaranya lembut. “Aku nggak percaya… ini benar-benar kamu?”
Hati Alya berdebar semakin cepat. Ini dia—Andre, cinta pertamanya. Mereka pernah berbagi banyak momen indah di masa muda mereka, sebelum kehidupan memisahkan mereka. Dulu, semasa kuliah, mereka berdua adalah pasangan yang tak terpisahkan, hingga suatu hari Andre harus pindah ke kota lain karena pekerjaan orang tuanya. Perpisahan itu begitu menyakitkan, dan meskipun mereka berusaha mempertahankan hubungan, akhirnya jarak dan waktu yang terlalu jauh memaksa mereka untuk berpisah.
“Andre… apa yang kamu lakukan di sini?” Alya bertanya, suaranya hampir tidak terdengar, terhanyut oleh perasaan yang tiba-tiba muncul kembali.
Andre menghela napas panjang, matanya memandang ke arah Alya dengan penuh makna. “Aku baru saja kembali ke kota ini. Aku… sebenarnya ingin memulai lagi, mencari sesuatu yang baru. Aku nggak tahu kenapa aku memilih datang ke sini, tapi begitu aku melihat toko ini, aku merasa… ini tempat yang tepat.”
Alya duduk di depannya, merasa kebingungannya mulai berganti dengan rasa hangat yang tak terduga. Mereka berbicara tentang banyak hal—tentang masa lalu mereka, tentang kepergian Andre yang tiba-tiba dan alasan kenapa hubungan mereka tidak bisa bertahan. Tentang bagaimana mereka berdua sama-sama memilih untuk mengejar jalan hidup masing-masing, meskipun di dalam hati, keduanya tetap menyimpan kenangan satu sama lain.
“Kamu tampak baik-baik saja, Alya,” kata Andre, senyum yang lembut kembali menyentuh wajahnya. “Aku… aku sering berpikir tentangmu. Aku nggak tahu kenapa, tapi aku selalu merasa ada yang tertinggal.”
“Oh, maksudnya pasti sering ingat lucunya kita dulu. Hmm, ngomong-ngomong Ardi gimana?” tanya Andre, matanya sedikit menatap dengan hati-hati.
Alya mengangguk, namun raut wajahnya berubah. “Ardi beberapa bulan yang lalu, udah enggak ada,” kata Alya pelan, merasakan kembali luka yang baru saja ia coba sembuhkan.
Andre terdiam sejenak, matanya berubah lembut. “Aku sangat menyesal mendengarnya, Alya. Aku tidak tahu…”
“Aku tahu,” Alya memotong, mencoba tersenyum. “Aku masih sangat merindukannya. Hidup… hidup tak pernah sama setelah kepergiannya.”
Mereka berdua terdiam sejenak, hanya ditemani suara detak jam dinding yang berat. Ada keheningan yang memeluk mereka, sebuah keheningan penuh makna. Setelah semua waktu yang berlalu, mereka kembali duduk bersama, berbicara, mengenang masa lalu yang tak pernah sepenuhnya hilang.
Bersambung…





Leave a comment