Lulu duduk di meja kerjanya di bank, merenungkan daftar nasabah KPR yang harus dia pantau. Satu nama yang selalu muncul di daftar pengingatnya adalah Rio. Rio adalah nasabah yang mulai terjerat dalam cicilan rumah 20 tahun setelah mengajukan upgrade rumah dengan pinjaman KPR.

Rio, seorang pria yang baru dua tahun lalu mengajukan pinjaman KPR untuk upgrade rumah. Dengan penghasilan sebagai driver online yang tak selalu stabil, Rio sering mengalami kesulitan dalam membayar cicilan tepat waktu. Meskipun begitu, ia selalu berusaha menghindari penalti, meski beberapa kali terlambat membayar. Lulu, yang bertugas mengingatkan nasabah, harus memastikan agar Rio tak terjebak lebih jauh dalam keterlambatan pembayaran.

Hari itu, seperti biasanya, Lulu mengirimkan pesan WhatsApp pertama. “Selamat pagi, Pak Rio. Kami ingin mengingatkan bahwa pembayaran cicilan KPR bulan ini sudah lewat jatuh tempo. Mohon segera dilakukan pembayaran.”

Namun, pesan itu tidak dibalas. Beberapa hari kemudian, Lulu kembali mengirim pesan pengingat kedua. “Pak Rio, harap diperhatikan, cicilan KPR bulan lalu masih belum dibayar. Kami harap bisa segera diselesaikan.”

Lulu tidak ingin memberi kesan buruk kepada nasabahnya, tetapi ia juga tahu betul apa akibatnya jika ada keterlambatan lebih lama lagi. Rio sudah terlalu sering terjebak dalam masalah keuangan karena ketidakseimbangan antara penghasilan dari desain grafis dan pekerjaan sebagai driver online. Meskipun pekerjaan keduanya ini tidak bisa dipandang sebelah mata, tetap saja, Rio sering merasa kesulitan mengatur waktu dan penghasilannya untuk memenuhi kewajiban.

Akhirnya, Lulu memutuskan untuk menelepon.

“Hallo, Pak Rio. Ini Lulu dari bank. Maaf mengganggu, tapi saya ingin mengingatkan bahwa cicilan KPR bulan lalu masih belum dibayar,” kata Lulu dengan suara lembut, mencoba tetap profesional meskipun cemas.

“Ah, Lulu, maaf banget. Lagi sibuk banget beberapa minggu ini. Saya baru bisa angkat telepon sekarang,” jawab Rio dengan suara sedikit terburu-buru, seperti baru selesai bekerja.

“Penghasilan dari desain grafis saya bulan ini agak sepi. Makanya, saya ambil kerjaan sampingan jadi driver online. Susah banget bagi waktu, dan aku nggak mau kalau cicilan rumah ini sampai terlambat parah,” tambahnya

Lulu mendengarkan dengan penuh perhatian. “Oh, KPR memang menyiksa!” gumamnya.

“Saya paham, Pak Rio. Tapi kami juga harus memastikan pembayaran cicilan berjalan dengan lancar. Apakah Bapak bisa memberikan perkiraan kapan pembayaran bisa dilakukan?” tanya Lulu.

“Ya, tentu. Mungkin minggu depan saya sudah bisa bayar, Lulu. Sekali lagi, maaf banget, ya.”

“Tidak masalah, Pak Rio. Yang penting Bapak tetap menjaga komunikasi dengan kami. Kami paham jika ada keterlambatan, tapi kami tetap berharap bisa menemukan solusi terbaik untuk semua pihak,” tutupnya.

Lulu menatap layar ponselnya untuk beberapa detik. Pikirannya melayang, kembali pada dirinya sendiri. KPR—pembelian rumah—selalu menjadi mimpi yang ia tunda. Dalam usia yang semakin bertambah, Lulu merasa terjebak dalam siklus kehidupan yang terus berjalan tanpa ada perubahan besar. Setiap kali melihat orang lain berhasil membeli rumah, dia merasa sedikit iri, sedikit takut. Kenapa orang bisa dengan mudahnya mengambil langkah besar seperti itu? Sementara dirinya, yang bekerja di dunia perbankan, justru merasa begitu ragu.

Ia teringat saat pertama kali berbicara tentang KPR dengan keluarganya. Mereka sering mendesaknya untuk segera membeli rumah, menstabilkan masa depan. Tapi Lulu selalu menghindar, menyembunyikan ketakutannya di balik senyuman. Setiap kali keluarga bertanya kapan dia akan mulai menabung untuk rumah, ia hanya bisa mengalihkan pembicaraan. Lulu tidak pernah merasa siap. Takut jika cicilan itu akan jadi beban yang terlalu berat. Takut kalau rumah yang ia beli nanti justru menjadi penjara, mengekang hidupnya yang selama ini merasa bebas.

Sekarang, di usia yang semakin matang, Lulu malah memutuskan untuk pindah ngekos, meninggalkan rumah orang tua yang penuh harapan, agar bisa sedikit bernapas dari tuntutan yang terus mengelilinginya. Di kamar kos yang sederhana itu, ia merasa ada ruang untuk dirinya sendiri, meskipun dalam hatinya ada rasa cemas yang terus mengusik.

Apakah aku akan terus begini? pikirnya. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia akan terus menunda mimpinya, seperti yang selalu ia lakukan. Ia takut. Takut akan tanggung jawab besar yang datang bersama kepemilikan rumah, takut kalau keputusan itu membuatnya terjebak pada rutinitas yang tidak bisa ia kendalikan. Bahkan saat melihat Rio yang berjuang keras untuk menunaikan kewajiban cicilannya, Lulu merasa ada perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa kagum dengan usahanya, tetapi di sisi lain, ia melihat bayang-bayang ketidakpastian yang kini mengelilingi hidupnya.

Rio lagi…

“Hmm, Rio lagi ya?” gumam Lulu.

Tanpa sadar, setiap bulan, Lulu semakin sering mengirimkan pengingat kepada Rio. Pesan singkat tentang cicilan KPR yang terlambat selalu ia kirimkan dengan sabar. Mulai dari satu kali WhatsApp, lalu dua kali, hingga akhirnya di bulan ketiga, nama Rio sudah tidak lagi menjadi daftar yang ia follow-up secara rutin.

Ia merasa aneh. Di satu sisi, ia merasa lega karena pekerjaannya sebagai petugas bank selesai tanpa ada masalah dengan nasabah, namun di sisi lain, ada sedikit perasaan kehilangan.

Hingga suatu hari, di sebuah sore yang biasa, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya.

“Halo Lulu, sekarang saya sudah dapat kontrak 1 tahun untuk ngerjain desain di satu perusahaan. Jadi KPR-nya ya aman. Cuma masih harus driver online juga hehehe, maaf ya merepotkan. Terima kasih sudah sering mengingatkan saya.”

Lulu membaca pesan itu, dan sejenak ia terdiam. Ada perasaan campur aduk dalam dirinya. Di satu sisi, ia merasa lega dan bangga bahwa Rio akhirnya menemukan kestabilan, tetapi di sisi lain, ia merasa sedikit terkejut—dan mungkin juga kecewa—karena tidak lagi bisa berbicara dengan Rio seperti dulu.

Lulu pun membalas, “Wah, selamat, Pak Rio! Saya yang justru makasih, Pak. Dari Pak Rio, saya jadi kepikiran soal KPR. Ternyata bukan cuma soal uang, tapi juga soal berani dan tanggung jawab.”

Beberapa detik kemudian, balasan Rio masuk. “Loh, masa yang ngurus KPR belum KPR?”

Lulu tertawa kecil membacanya, ada kehangatan dalam kata-kata Rio yang kini terasa seperti dorongan untuk dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, ia membalas lagi, “Saya takut, Pak. KPR itu kan tanggung jawab besar. Belum siap…”

Tiba-tiba, Rio mengirim pesan lanjutan. “Saya juga dulu merasa begitu, Lulu. Tapi ternyata, nggak ada yang benar-benar siap. Kalau kita terus menunggu, mungkin nggak akan pernah ada momen yang tepat. Kadang, kita cuma perlu mengambil langkah pertama.”

Lulu terdiam. Ternyata Rio, dengan segala kesulitan dan perjuangannya, lebih siap daripada dirinya yang bekerja di dunia perbankan.

“Ngomong-ngomong, gimana kalau kita ketemu? Eh, aneh enggak sih, nasabah yang sering ditagih justru ngajak ketemu yang nagihnya?” tulis Rio.


Ketika Rio datang, ia mengenakan setelan kasual dan celana jeans, tampak santai, rapi, meskipun wajahnya terlihat lelah. Mereka saling menyapa dan duduk, lalu mulai berbicara lebih dalam.

Rio mengangguk, matanya menunjukkan pengertian yang mendalam. “Ya, Lulu. Kadang kita perlu sedikit ketakutan untuk motivasi. Jangan terlalu lama menunggu, karena waktu terus berjalan. Kalau terus menunggu momen yang sempurna, kita bisa jadi nggak pernah mulai.”

Lulu terdiam sejenak, mencerna kata-kata Rio. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Rio terlihat sedikit kikuk. Ia menggaruk-garuk tengkuknya, mencoba mencari kata-kata yang tepat.

“Eh… maaf, mungkin itu terdengar agak berat ya?” Rio tertawa canggung. “Maksud saya… Kadang kita memang terlalu khawatir, padahal yang penting itu justru melangkah. Tapi saya ngerti, Lulu. Takut itu wajar.”

Lulu menahan senyum melihat sikap Rio yang tiba-tiba kikuk. “Tidak, nggak kok, Pak Rio. Justru kata-kata kamu… membantu banget. Saya jadi mikir, mungkin saya terlalu lama menghindar dari hal besar seperti ini.”

Rio tersenyum lagi, meskipun masih ada keraguan di matanya. “Ah, ya… itu kan… saya juga nggak pernah mikir kalau… apa ya, orang yang sering nagih saya, malah enggak ambil KPR. Apa saya yang terlalu ambisius ya?” ujar Rio, sedikit terbata.

Lulu tertawa kecil mendengar itu. “Saya cuma melakukan tugas saya, Pak Rio. Tapi… sepertinya kamu benar. Kadang ketakutan itu bisa jadi dorongan untuk mulai. Saya… saya jadi merasa lebih siap, sedikit lebih siap.”

Suasana canggung yang sempat muncul kini mulai mencair. Mereka berdua tertawa pelan, dan meskipun ada sedikit kekikukan di awal, percakapan itu membawa mereka pada sebuah titik.

Lulu merasa hatinya lebih ringan. Ia merasa Rio mengajarkan sesuatu yang penting—tentang berani mengambil langkah pertama meskipun ada ketakutan yang mengikutinya.

Mungkin, saatnya memang sudah tiba baginya untuk mulai berpikir serius tentang masa depan, tentang memiliki rumah, dan yang lebih penting—tentang melangkah bersama seseorang. Belum tahu siapa orangnya. Sosoknya masih samar. Dan di tengah-tengah tantangan hidup, hari itu mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak lagi perlu melakukannya sendirian.

Leave a comment

Trending