Siang itu nampak biasa bagi Ruth. Dengan sisa waktu makan siang yang dimilikinya, ia menghangatkan bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Sambil menyendok nasi ke dalam mangkuk, ia membuka ponsel dan menonton video pendek—sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari rutinitas kantor yang mulai terasa monoton.
Selepas makan, Ruth menerima pesan singkat dari sekertaris Pak Andre, CEO perusahaan tempatnya bekerja. “Ruth, kamu diminta bapak ke ruangannya.”
Sudah tiga bulan ini, ia bekerja di bawah pengawasan Pak Andre. Jabatan manajer divisinya kosong sejak orang sebelumnya yang mengundurkan diri. Sesampainya di ruang Pak Andre, Ruth masuk dan disambut oleh Pak Andre yang sudah duduk di belakang meja kerjanya.
“Ah, Vico ini Ruth; dan Ruth ini Vico! Sini duduk, Ruth,” katanya sambil melambaikan tangan ke kursi di seberangnya. Ruth pun menyapa Vico, kemudian duduk
“Ruth, saya minta maaf, belakangan kamu kerja sendirian. Memang untuk divisi marketing yang berhubungan dengan kreativitas, nyari orang harus cocok-cocokan. Vico ini nanti akan menggantikan posisi Nanda. Jadi, kamu akan banyak tektokan sama dia,” kata Pak Andre.
Ruth mengangguk pelan, mencoba memproses informasi baru itu.
Pak Andre melanjutkan, “Vico akan mulai bekerja dengan kamu hari ini, dan saya ingin kamu membantu dia memahami pekerjaan di sini, terutama sistem dan ritme yang sudah berjalan.”
“Baik, pak. Selamat datang dan mohon kerjasamanya ya, Mas Vico,” kata Ruth.
Ruth kemudian mengajak Vico berkeliling. Mengenalkannya pada setiap karyawan perusahaan kecil itu dan mengantarkannya ke tempat duduk yang ditempati supervisor-nya dulu: tepat di depannya.
“Eh, Ruth, jangan kaku-kaku banget! Panggil aja, Vico,” kata Vico ringan.
Laki-laki ini nampak santai. Vico memang terlihat energik, tetapi ada sesuatu yang terasa sedikit… “Kayaknya agak clumsy nih, orang,” gumam Ruth.
Sebuah malam Valentine
Tiga bulan setelah Vico menjadi atasan Ruth. Suasana kantor tampak sibuk malam itu. Meja-meja tampak berantakan dengan post it di mana-mana. Beberapa layar laptop masih memancarkan cahaya biru terang. Ada yang sedang berdiskusi di pojokan, ada yang berbicara lewat telepon dengan suara tegas, dan di beberapa ruang rapat, suara ketukan keyboard tak henti-hentinya terdengar.
Ruth memeriksa email satu per satu, memastikan tidak ada tugas yang ia lewatkan. Ia juga memastikan detail-detail kecil untuk peluncuran produk yang dijadwalkan pada 15 Februari, besok!
Di sebelahnya, Vico juga tak kalah sibuk. Sesekali ia menelepon supplier untuk memastikan pengiriman terakhir barang, memastikan tim desain mengirimkan materi promosi yang sudah disesuaikan, dan berulang kali mengonfirmasi dengan tim produksi agar semuanya siap tepat waktu.
“Ruth, ini ada revisi terakhir untuk materi iklan,” kata Vico sambil menyodorkan beberapa mock up yang ia print. Wajahnya terlihat serius dengan kemeja yang sudah sedikit lusuh.
“Baik, saya cek dulu,” jawab Ruth sambil mengambil dokumen itu. Mereka berdua kembali tenggelam dalam pekerjaan mereka. Setiap detik terasa berharga. Mereka berdua tahu betul bahwa kesuksesan peluncuran produk ini akan sangat bergantung pada detil-detil kecil yang sering terlupakan oleh orang lain.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Ruangan yang biasanya penuh dengan keceriaan dan canda tawa kini dipenuhi keheningan serius. Ruth dan Vico bekerja dengan cepat namun cermat, menyelesaikan berbagai tugas terakhir.
“Kita harus pastikan kampanye produknya sudah siap tayang besok,” kata Vico sambil menyimak grafik yang muncul di layar komputer. “Jangan sampai ada yang terlewat.”
Ruth mengangguk. Mereka berdua begitu tenggelam dalam pekerjaan hingga tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 malam.
“Satu lagi, Ruth,” kata Vico saat ia melirik jam tangannya. “Cek materi promo dari tim media sosial ya, revisi final sekarang supaya kalau mereka mau mulai schedule malam ini, sudah bisa,” katanya
Ruth mengangguk. Ia melihat sisi lain dari Vico yang sangat terlibat dalam setiap detail rencana marketing yang tengah ia garap. Iabenar-benar serius dalam pekerjaan ini, dan Ruth bisa merasakan betapa banyak pikirannya tercurah untuk membuat produk lilin aromaterapi ini sukses besar di pasaran.
“Done! Kirim ke tim medsos sekarang ya, Ruth,” kata Vico.
Bak estafet, Ruth pun mengirimkan email terakhir di malam itu. “Sudah, pak. Akhirnya selesai juga,” katanya,
“Well done, all.” kata Vico sambil menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursinya. Seketika Vico yang beberapa jam ini serba gegas terlihat seperti anak kecil yang baru saja menyelesaikan rubiks.
Mereka tinggal berdua dalam hening sambil mengingat kembali caranya bernapas. Sampai ketika OB kantor, membawa dua kotak makanan Jepang, lengkap dengan saladnya.
“Makan dulu kita, Ruth. Tadi sudah saya pesan Pak Anton buat beliin ini, makanan lembur sejuta umat,” katanya.
“Oh, iya sih ini, Vic. Makanan lembur banget,” balas Ruth.
Ruth membuka kotak makanan itu. Sudah lama sekali rasa lapar tidak mengunjunginya. Tiba-tiba, ada aroma khas yang menyeruak. Bukan, itu bukan aroma makanannya.
“Biar afdal, Valentine kita makan nasi kotak plus lilin aromateraphy,” kata Vico sambil mengangkat produk yang bakal rilis besok
Ruth tersenyum kecil mendengarnya. Mereka berdua pun makan dengan lahapnya, sambil menikmati aroma yang menenangkan –mengakhiri malam Valentine dengan cara yang tak terduga.
Ruth sampai di rumah dengan langkah yang lelah. Sepatu hak tinggi yang sepanjang hari mengikat kakinya akhirnya dilepas, dan ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Kemeja kerjanya juga sudah terasa terlalu ketat di tubuhnya, jadi ia segera melonggarkan kancing-kancingnya. Namun meski tubuhnya sudah lelah, kantuk itu tidak datang. Hanya perasaan kosong yang mengisi, membuatnya terjaga meski malam sudah semakin larut.
Ia berjalan menuju kamar tidur—kamar yang selama ini ia hindari. Ruangan itu masih terasa sepi, seperti kenangan yang terperangkap di dalamnya. Sejak Gala meninggal, ia merasa tidak bisa tidur di tempat itu. Ia lebih memilih tidur di sofa ruang tamu, duduk dalam kesunyian, berusaha menenangkan pikirannya yang terus berputar.
Ruth melangkah ke lemari yang dulu selalu dipenuhi dengan pakaian-pakaian Gala. Ia membuka pintu lemari itu dengan hati-hati, dan seperti biasa, kemeja-kemeja suaminya masih teratur rapi di tempatnya. Tidak ada yang berubah, seolah waktu tidak berjalan. Namun, saat ia menggeser beberapa baju, matanya tertumbuk pada sesuatu yang terjatuh dari rak. Sebuah surat. Dengan tangan gemetar, ia memungut surat itu. Matanya mulai terbaca tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Sayangku, jiwaku Ruth,
Jika kamu membaca surat ini, itu berarti aku sudah bebas dan bagiku ini lebih baik daripada aroma rumah sakit dan makanan hambar di sana. Sayangku, aku tahu ini tidak akan mudah bagimu.
Aku ingin kamu tahu satu hal: Aku ingin kamu menemukan kebahagiaanmu kembali, menemukan cintamu lagi. Aku sudah bahagia, Ruth. Waktuku bersama kamu adalah segala kebahagiaan yang aku dambakan. Hingga saatnya aku membenci diriku sendiri yang mememenjarakanmu lewat keadaan sakitku.
Sekarang, aku melepasmu, Ruth. Cintaku tidak akan pernah hilang dan kisah kita, bahagia kita, senyummu akan terus bersamaku.
Tapi kamu, teruslah hidup, sayang. Izinkan hatimu untuk kebahagiaan yang baru.
Dengan segala cintaku padamu, Gala
Air mata Ruth mengalir deras, ia tak bisa menahan isak tangis yang pecah seketika. Ia merindu Gala, laki-laki yang mewujudkan segala impiannya; pernikahan yang manis, momen yang indah, petualangan yang menyenangkan.
Ruth memeluk surat itu erat-erat, mencoba mengatur napasnya. Kali itu Ruth sadar kalau ia harus mencari cintanya kembali. Bukan kepada orang lain, tapi kepada dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat, air mata Ruth mulai reda, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan kerinduan yang tak terungkapkan. Ia merasa lelah, tetapi kali ini, rasa kantuk itu datang dengan sendirinya. Dengan surat itu masih dipeluknya erat, Ruth akhirnya terlelap, tertidur pulas di tempat tidur yang sepi, tanpa suara apapun kecuali detak jam yang berdetak pelan.
Alarm pagi yang berbunyi seolah mengakhiri malam panjang, yang melelahkan sekaligus melegakan Ruth.
Suasana kantor hari itu nampak ringan. Ruth tengah membereskan mejanya yang penuh dengan catatan yang ia buat. Vico menghampirinya, membawa secangkir kopi hangat. “Kelar juga nih, Ruth. Semoga Bapak happy, ya sama hasilnya,” kata Vico dengan senyuman puas di wajahnya.
Ruth tersenyum tipis. “Pasti happy sih, dia. Hari ini bisalah kita pulang cepat. Enggak perlu ada nasi kotak pakai katsu, yakiniku, sama salad lagi. ya,” canda Ruth.
“Eh, Ruth… gimana kalau kita rayakan hari ini dengan makan malam bersama? Saya tahu kita berdua habis lembur, dan mungkin kamu butuh sedikit waktu untuk bersantai. Ini hari yang panjang, kan?”
Ruth terdiam sejenak, merasakan tawaran itu menggelitik hatinya. Meski ia merasa kelelahan, ada sesuatu yang membuatnya setuju.
“Yuk, kenapa enggak?” ucap Ruth yang sesaat bikin hatinya kaget.
Vico tersenyum lebar. “Bagus! Saya tahu tempat makan yang enak dekat sini. Jam 6 berangkat, sounds good?”
Dan malam itu, mereka berdua akhirnya keluar dari kantor, meninggalkan kesibukan dan menikmati makanan bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ruth merasa sedikit lebih ringan, merasa bahwa ada harapan baru yang bisa saja tumbuh.





Leave a comment