Saya sedang mencuci tumbler ketika saya tersadar kalau ternyata saya memiliki delapan wadah minum tersebut. “Kenapa untuk satu fungsi yang sama, saya punya berbagai jenis tumbler, ya?”, pikir saya saat itu.

Tumbler, yang awalnya diperkenalkan sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengurangi penggunaan botol sekali pakai, kini malah menjadi benda yang tak bisa dipisahkan dari gaya hidup sehari-hari.

Dalam beberapa bulan terakhir, kita mungkin menyadari betapa seringnya kita membeli tumbler baru—meski sebenarnya kita sudah punya lebih dari cukup. Padahal, tujuan utama tumbler adalah untuk mendukung keberlanjutan, mengurangi limbah plastik, dan memudahkan kita membawa minuman sendiri. Namun, dengan desain baru yang terus bermunculan dan trend-setting yang tak bisa dihindari, akhirnya kita justru tergoda untuk menambah koleksi tumbler; meski fungsinya sudah terpenuhi.

Entah apapun alasasnnya. Mulai dari ukuran; yang bisa muat ke dalam tas atau yang bisa memenuhi kebutuhan minum harian; hingga model keren yang bikin tumbler harga Rp50 ribuan kayak enggak lagi sesuai dengan gaya hidup. Keberadaan tumbler kayaknya –bagi sebagian orang– justru mengukuhkan strata sosial mereka.

Kembali ke dasar, apa fungsi tumbler?

Tumbler pertama kali muncul pada abad ke-19. Ia diperkenalkan sebagai wadah minuman sederhana yang terbuat dari logam atau kaca. Dilansir RRI, Nama “tumbler” sendiri berasal dari kata Inggris kuno “tumble,” yang berarti “terguling.” Nama ini merujuk pada bentuk tumbler yang stabil, namun mudah terguling jika tidak ditempatkan dengan hati-hati. Saat itu, tumbler digunakan untuk berbagai jenis minuman, namun yang lebih sering adalah untuk minuman keras.

Memasuki abad ke-20, tumbler mengalami inovasi besar, terutama dengan diperkenalkannya bahan plastik dan stainless steel. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, seiring berkembangnya industri plastik, tumbler berbahan plastik mulai populer.

Alasannya? Tentu karena kemampuan menahan suhu minuman. Jadi, tumbler dikenal dengan kepraktisannya untuk kegiatan luar ruangan, seperti piknik atau perjalanan.

Pada tahun 1980-an, muncul tumbler berbahan stainless steel. Daya tahan minuman yang memberikan keunggulan daya tahan lebih tinggi dan kemampuan menjaga suhu minuman lebih lama. Inovasi ini semakin memperluas penggunaannya, terutama di kalangan pelancong dan pekerja yang membutuhkan wadah minuman yang tahan lama dan andal.

Tumbler dan solusi masalah lingkungan

Dengan segala ketahanan dan kepraktisannya, strategi komunikasi penggunaan tumbler kemudian diperluas lagi. Ia digadang-gadang bisa menjadi solusi atas banyaknya limbah plastik. Bagaimana tidak?

Satu tumbler yang dijaga dengan baik bisa dipakai berulang. Hal ini juga yang bikin coffee shop yang setiap harinya menggunakan plastik untuk kemasan kopi memutar ide mereka. Bukan cuma ingin berkontribusi dalam mengurangi penggunaan plastik, tapi bagaimana akhirnya tumbler juga bisa meningkatkan ‘cuan’ dengan segala fungsi dan bentuknya,

Di abad ke-21, tumbler minuman mengalami revolusi desain yang signifikan. Tidak hanya berfokus pada fungsinya, tumbler modern juga mengutamakan estetika. Desain tumbler kini sangat bervariasi, mulai dari yang simpel hingga yang memiliki fitur-fitur canggih seperti tutup anti tumpah, pegangan ergonomis, dan lapisan isolasi ganda.

Enggak lagi soal fungsi, tumbler kemudian menjadi bagian dari budaya populer dalam dua dekade terakhir, terutama setelah tumbler berbahan plastik dan stainless steel mulai lebih banyak digunakan oleh brand minuman besar, seperti Starbucks. Starbucks sendiri mengubah cara orang melihat tumbler ketika mereka mulai memasarkan gelas dan tumbler dengan desain yang menarik dan sering kali limited edition.

Pergeseran fungsi tumbler mulai terasa lewat tren koleksi tumbler dari berbagai negara. Well…

Tumbler yang bikin kita makin kalcer

Salah satu inovasi terbesar tentu saja datang dari teknologi vacuum-insulated atau isolasi vakum yang mampu menjaga suhu minuman panas atau dingin selama berjam-jam. Bahkan, sebuah video yang viral muncul; yaitu ketika sebuah tumbler tetap menjaga kualitas minuman ketika mobil penggunanya meledak.

Tapi apakah hal ini menurut kamu jadi alasan utama untuk beli tumbler ratusan ribu tersebut? Seberapa banyak dari antara kamu yang hobi main alat peledak?

Kemudian ada pula pesan marketing yang bikin tumbler ini bisa menahan minuman lebih dari 24 jam. Pertanyaannya, buat apa sih kita menahan minuman lebih dari 24 jam? Perlu, kalau kamu adalah pendaki gunung atau traveler ekstrem yang berhari-hari tidak terkoneksi teknologi.

Saya sendiri bingung ketika teman saya menawarkan, “Beli samaan yok, ini kuat banget loh, kena ledakan saja masih oke isinya.”

Sampai ketika tumbler ini kemudian secara sporadis

Mereka menjadi status simbol di kalangan konsumen yang ingin memamerkan identitas mereka dengan minuman favorit mereka.

Tumbler kemudian muncul sebagai aksesori yang tidak hanya praktis untuk minum, tetapi juga menjadi fashion statement. Ini sebagian besar dipicu oleh budaya media sosial, di mana orang mulai berbagi foto mereka dengan tumbler mereka di platform seperti Instagram. Orang-orang berbagi gaya hidup mereka yang lebih santai, kekinian, dengan menampilkan tumbler di setiap kesempatan.

Kehadiran tumbler dalam media sosial juga mendorong penciptaan variasi produk yang sangat luas. Banyak brand kini mengeluarkan tumbler dengan desain yang sangat personalisasi, beragam ukuran, dan material yang sesuai dengan tren saat itu. Desain-desain tumbler ini bisa sangat mencolok atau bahkan minimalis, dengan berbagai warna dan pola yang membuatnya semakin populer di kalangan konsumen muda.

Sampai hari ini, tumbler tetap menjadi simbol dari identitas tertentu dan telah melekat dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai alat minum yang praktis atau bahkan sebagai aksesori gaya hidup yang mencerminkan estetika atau nilai-nilai pribadi seseorang.

Jadi, tumbler yang kita kenal sekarang, terutama yang digunakan untuk minuman sehari-hari, punya perjalanan panjang dari alat praktis biasa menjadi bagian dari tren pop culture, terutama berkat media sosial dan budaya visual.

Tapi, apa perlu kita punya tumbler baru lagi? Kayaknya belum deh….

Leave a comment

Trending